#test #test

Indonesia's One Stop Dance Information Portal

Mendengar Jeritan Perempuan Lewat “Suara” karya Nabilla Rasul

Perempuan identik dengan kelembutan dan keanggunan. Namun, karena kelebihannya itulah perempuan juga sering dianggap sebagai makhluk yang lemah. Kekerasan, pelecehan, maupun diskriminasi yang dialami oleh kaum hawa sudah lama menjadi perhatian, tapi deritanya belum juga hilang.
Melalui karyanya yang berjudul “Suara”, Nabilla Rasul menyentil isu emansipasi perempuan. Pementasan yang diadakan pada tanggal 1 dan 2 November 2014 di Goethe Institut, Jakarta tersebut menampilkan koreografi tarian kontemporer yang indah dan sarat dengan pesan, didukung oleh musik dan pencahayaan yang menguatkan tema.

20141102_200318
Delapan penari tampil pada pertunjukan “Suara” malam itu. Sisi feminim mereka diperlihatkan dengan kostum rok pendek dan rambut panjang yang dibiarkan tergerai. Ada kalanya musik berdentum-dentum membantu menggambarkan emosi pada setiap gerakan, tapi beberapa kali suasana ruangan auditorium Goethe Insitute dibiarkan sunyi senyap – memberikan kesempatan pada penonton untuk memberi perhatian penuh pada para penari di atas panggung. Saat itulah, para penari mengungkapkan penderitaan perempuan yang hanya bisa berteriak dalam diam. Mereka membuka mulut, mengulurkan tangan, bergeliat memohon pertolongan, tapi tak ada suara yang terdengar. Membuat keheningan yang ada terasa semakin menyesakkan.

2081

2085

Lewat kreatifitas dan kepekaannya, Nabilla Rasul, selaku artistik dan koreografer, berhasil memperlihatkan unsur penting dari masalah kekerasan pada perempuan. Pesannya jelas : masih banyak perempuan yang tertindas dan bungkam, masih banyak saksi nyata dari ketidakadilan pada perempuan yang memilih untuk diam. Kita semua sadar bahwa ada sesuatu yang salah, tapi yang benar-benar dibutuhkan adalah seseorang yang benar-benar mau bertindak nyata untuk berubah.
Seseorang yang mau bersuara.

———–
Nabilla Rasul adalah peraih Hibah Cipta Perempuan Yayasan Kelola 2014, yaitu sebuah program yang memberi kesempatan bagi seniman perempuan Indonesia untuk mengembangkan diri dan mewujudkan karya. Terimakasih pada Yayasan Kelola dan berbagai pihak yang memberikan dukungan, sebuah karya seapik “Suara” bisa hadir dan dikenang.
Tim Njoged tidak sabar untuk menunggu karya Nabilla Rasul yang berikutnya, juga menanti karya nyata dari program-program Yayasan Kelola. Break a leg!

Article Written & Contributed by Putri Amanda

Manda’s Portofolio

Manda’s Blog