#test #test

Indonesia's One Stop Dance Information Portal

For The Love of Ballet

Di penghujung bulan February 2015, ballet.id mempersembahkan pertunjukan pertama bertajuk “For the Love of Ballet”(Untuk Kecintaan Kepada Balet), dalam rangka ulang tahun pertama Yayasan ballet.id (atau ulang tahun ke-2 semenjak kami mempersiapkan Intensive Dance Course yang pertama di tahun 2013).

Dalam pertunjukan ini, kami ingin berbagi kecintaan kami terhadap seni tari balet kepada teman-teman dan keluarga terdekat. Kami menampilkan versi awal dari hasil penelitian mengenai sejarah balet di Indonesia di awal abad ke-20, untuk menampilkan kepada para penonton bahwa balet dan tari Indonesia berperan cukup penting dalam sejarah seni tari dunia. Dalam pertunjukan ini kami juga menampilkan tiga cuplikan tarian dari repertoar klasik oleh koreografer Rusia Marius Petipa.

Sangatlah menarik untuk melihat bagaimana balet berkembang dan masuk ke Indonesia di awal abad ke-20. Banyak dari kita sudah lupa bahwa ada beberapa nama besar seni tari dunia berkunjung ke Indonesia, dan ketika mereka berkunjung, mereka belajar mengenai tari dan budaya Indonesia. Nama-nama seperti Ruth St. Denis dan Ted Shawn, yang kemudian menjadi perintis tari modern di Amerika Serikat, dan tentunya penari besar dunia Anna Pavolva berkunjung ke Indonesia di tahun 1920an. Kemudian di tahun 1955, Martha Graham juga tampil di Indonesia, dan jangan lupa, komponis Benjamin Britten berkunjung ke Bali dan menciptakan balet yang berjudul “The Prince of the Pagoda” yang menggunakan musik tradisional Bali secara kental.

Mendengar cerita bagaimana seni tari balet bertahan di zaman perang kemerdekaan sangatlah menyentuh. Para guru balet pertama, seperti Puck Meijer, kakak-beradik Blok de Neve, dan Magda Zahler, semua mengalami dipenjara di kamp tawanan perang Jepang. Tetapi mereka tidak patah semangat, malahan, mereka terus menari dan mengajar balet di kamp tersebut. Puck Meijer malah mengajar Beatrijs Vitringa di dalam kandang babi di kamp tawanan (Beatrijs yang kemudian menjadi penari utama di Kurt Joos Ballet)! Masa-masa sulit itu tidak menghalangi mereka untuk berdedikasi kepada seni tari balet. Mungkin kita harus bertanya kepada diri sendiri, di zaman informasi seperti sekarang, kenapa balet Indonesia tidak kelihatan di ajang balet dunia? Sejarah di awal abad ke-20 menunjukkan, bahwa penari-penari Indonesia tidak kalah berbakat daripada penari kelas dunia lainnya.

Kemudian, kami menampilkan tiga tarian yang dikoreografi oleh Marius Petipa, dan musik yang digubah (atau diaransemen ulang) oleh Riccardo Drigo. Tarian pertama adalah pas de deux dari Talisman, sebuah tarian yang berlatar cerita dewa-dewi India. Tarian kedua adalah pas de deux dari Le Corsaire. Tarian ini awal mulanya adalah sebuah pas de trois (tarian tiga orang), tetapi kemudian diaransemen ulang menjadi tarian duet dan menjadi salah satu tarian wajib di kompetisi balet dunia. Tarian terakhir diambil dari balet “Swan Lake”, yaitu tarian babak kedua yang berjudul “White Swan pas de deux”. Tarian ini sangat sedih dan menyentuh. Musik Swan Lake sangat terkenal dan digubah oleh Tchaikovsky, tetapi diaransemen ulang oleh Riccardo Drigo setelah Tchaikovsky wafat.

Ballet.id mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada H.E. Duta Besar Republik Ceko Mr. Tomáš Smetánka dan Madam Irina Smetánková, Ballet Sumber Cipta, Cicilia Ballet, Marlupi Dance Academy, and Namarina Dance Academy. Juga terimakasih kepada Nurwinda Batangtaris, Tania Hayu Safira, dan Weddy Gunawan untuk dukungannya dalam pertunjukan ini, Ms. Ade Setiowibowo dan Adella Fauzi untuk masukannya dalam sesi-sesi latihan. Terima kasih juga untuk Ato Suprapto, Budiman Tanah Djaja, dan Indi Soemardjan untuk dukungan dalam fotografi dan videografi. Terimakasih yang sebesar-besarnya untuk anda semua yang sudah datang dan mendukung kami dalam pertunjukan ini. Semoga ke depannya, lebih banyak pertunjukan seperti ini, dan semoga dapat berkolaborasi dengan berbagai individu, sekolah, dan organisasi yang memiliki tujuan yang sama untuk belajar bersama demi memajukan balet di Indonesia.

 

For The Love of Ballet

 

For The Love of Ballet

 

For The Love of Ballet

 


FOR THE LOVE OF BALLET

  • Opening & Public Lecture: The History of Ballet in Indonesia (1900s-1950s): By Meutia Chaerani & Tabita Malat
  • Ballet Performance (Choreography by Marius Petipa, Music by Riccardo Drigo and Tchaikovsky):
    • Pas de Deux from “Talisman”: By Wenny Halim and Enrico Tanod
    • Pas de Deux from “Le Corsaire”: By Mariska Febriyani and Alexander Mawuntu
    • The White Swan Pas de Deux from “The Swan Lake”: By Anindya Krisna and Enrico Tanod

Article&photos courtesy of ballet.id