#test #test

Indonesia's One Stop Dance Information Portal

15 Minutes With Alvin De Castro

Alvin De Castro adalah seorang koreografer hiphop/jazz yang berasal dari Australia yang tanggal 19 Agustus mengisi workshop tari di Bandung. Di negaranya sendiri dia sudah terkenal sebagai koreografer urban yang berspesialisasi di hiphop dan jazz. Kredit koreografinya meliputi L’Oreal Fashion Week, showcases for Adidas, Shell, ‘You Got Served’ promotional tour by Colombia Tristar, penari Sean Paul dam sebagainya. Biografi lengkap Alvin bisa dilihat di web pribadinya http://www.alvindecastro.com.

Kami tertarik mewawancarai Alvin demi mendengar dan belajar langsung dari pengalamannya dan mencari masukan yang berguna untuk komunitas tari Indonesia.

Njoged: Kapan dan bagaimana anda mulai menari?

Menari telah menjadi bagian dari kultur keluarga saya. Keluarga say a sering menari di acara pesta keluarga. Lalu saya bersama sepupu sering membuat pertunjukan yang bagus. Tapi saya mulai benar-benar menari ketika di acara musikal sekolah, lalu mulai membentuk dance group.

Njoged: Lalu anda langsung jatuh cinta sama tari?

Tidak. Saya dulu berpikir saya akan menjadi seorang desainer grafis. Dan itu memang bidang yang saya pelajari secara resmi, dan akhirnya saya jadi desainer grafis. Tapi tentu saja saya punya banyak ketertarikan, tapi menari menjadi hal yang fun buat saya. Saya memutuskan untuk mendalami lebih serius beberapa tahun kemudian.

Njoged: Apa yang menjadi titik balik Anda memutuskan untuk mendalami tari dengan lebih serius?

Titik baliknya adalah ketika saya menyadari bahwa melalui tari saya bisa memberikan dampak besar bagi orang-orang dan bagaimana saya bisa membuat orang senang, dan adalah suatu kebahagiaan tersendiri ketika saya melihat koreografi saya menjadi hidup ketika ditarikan orang lain. Ini membuat saya bahagia, dan begitu juga mereka. Dan ini sangat spesial

Njoged: Apakah itu terjadi dalam seketika atau seberapa lama tepatnya?

Semua terjadi dalam proses yang panjang, bukan seketika itu saya berpikir untuk menjadi seorang penari. Ketika kita jatuh cinta dengan sesuatu, itu terjadi dalam proses bertahap, dan seiring waktu akhirnya hasrat turut membesar.Jadi analoginya seperti “in relationship”. Saya sekarang berumur 27 tahun, saya menari sejak masih kecil dan mulai mengambil kelas tari sejak berumur 19 tahun. Jadi sudah sekitar 8 tahun saya mendalami dunia tari secara serius.

Njoged: Apa dan siapa yang menginspirasi anda untuk menjadi penari ?

Insipirasi bisa bersumber dari orang-orang sekitar. Saya tidak hanya terinspirasi dari penari tertentu, tapi lebih terinspirasi oleh perasaan apa yang sampai ke orang lain dan juga kepada saya, jadi itulah alasan sebenarnya saya menari. Saya tidak pernah menari untuk menjadi terkenal, saya menari karena saya menikmatinya. Dan syukurlah sekarang saya sudah mencapai dimana saya bisa makan dari hasil menari. Dan pada saat bersamaan saya bisa berkontribusi ke komunitas, jadi saya semakin mantap untuk menekuni dunia tari.

Njoged: Apakah komunitas memberi pengaruh besar terhadap anda?

Ya tentu saja. Saya selalu terlibat dalam kegiatan komunitas. Ketika kita memilih menari sebagai karir maka kita harus mengkompromikan waktu untuk komunitas dan diri sendiri untuk bisa menyokong diri sendiri. Dan untuk tetap menyebarkan dan berbagi hasrat menari.

Njoged: Style atau kultur apa yang mempengaruhi gaya anda menari?

Karena saya otodidak, jadi pengaruh terbesar adalah dari street style. Bertukar ilmu dengan teman-teman, di pesta, berkumpul di rumah teman, lalu mencoba meniru gerakan dari tv. Seperti video klip atau variety show, dan tentu saja Michael Jackson, Janet Jackson. Saya lahir di tahun 80-an jadi saya menonton acara tahun 90-an jadi era inilah yang menjadi salah satu inspirasi tari terbesar saya. Sangat funky, banyak groove, ini adalah era favorit saya.

Njoged: Sebagai koreografer apa anda pernah mengalami writer’s block?

Tentu saja saya pernah mengalaminya. Sebagai koreografer yang harus kreatif, kami adalah manusia biasa, pikiran saya tidak selalu bekerja dengan benar, jadi saya mencari inspirasi dari hal-hal yang terjadi pada kehidupan sehari-hari. Ketika saya merasakan sesuatu, saya mencari lagu yang sesuai dengan suasana perasaan saya, atau ketika saya sangat menyukai satu lagu, saya akan membuat koreografinya. Bahkan ketika saya Cuma mendengar sesuatu di radio atau kalau saya suka beatnya atau lirik, dan masih banyak lagi yang menghasilkan inspirasi tapi kalau saya tidak latihan untuk beberapa waktu saya biasanya mengalami writer’s block, maka biasanya saya langsung mengambil kelas, atau melihat video di youtube, membaca buku, menonton film..semuanya bisa jadi inspirasi. Saya pikir kita semua bisa belajar dari apapun.

Njoged: Anda sudah sekitar 5 hari berada di Indonesia dan sudah mengajar di 4 kelas. Apa pendapat anda mengenai partisipan yang mengambil kelas anda?

Penari di Indonesia itu sangat antusias dan bersemangat. Mereka ingin belajar lebih. Ini sangat bagus, tapi dibalik itu juga menunjukkan bahwa tidak cukup banyak kelas yang tersedia dan ini perlu ditambah lagi. Menurut saya akan lebih bagus kalau di sini ada lebih banyak kelas, pengajar, kompetisi, pagelaran, serta forum atau komunitas. Jika itu berkembang, maka itu bisa memberikan apa yang dibutuhkan oleh para penari.

Njoged: Apa anda melihat suatu kekurangan yang terlihat selama anda mengajar di sini?Kalau ada apa yang bisa dilakukan untuk meningkatkannya?

Mereka cepat menangkap koreografi, dan itu menunjukkan bahwa mereka banyak berlatih dan terus berusaha meningkatkan kemampuan.Tapi karena masih tumbuh, menurut saya perlu variasi style. Yang saya tangkap adalah mereka menari dengan cara yang sama. Akan bagus kalau bisa menunjukkan keunikan individu. Tapi ini bisa dicapai melalui pengalaman dan eksposur, bisa juga melalui perjalanan, bertemu dengan berbagai penari dari berbagai belahan dunia. Bila lebih banyak lagi penari luar yang datang ke Indonesia maka hal ini akan membantu komunitas untuk lebih berkembang lagi.

Njoged: Jadi mereka perlu lebih mengerti diri mereka sendiri?

Menurut saya penari biasanya sudah faham mengenai diri mereka. Tapi maksud saya adalah ketika mereka diberikan sesuatu yang baru dan masih kesulitan untuk beradaptasi terhadap hal tersebut, maka pengalaman ini akan sangat berguna. Semakin banyak variasi kelas dan pengajar, maka perbendaharaan mereka akan semakin banyak. Mereka sudah bagus dengan apa yang sudah biasa mereka lakukan, tapi menurut saya perlu untuk ditempa lagi dan mencoba terus untuk keluar dari comfort zone.

Berikut cuplikan kegiatan workshop dan wawancara dengan Alvin :

Semoga kita semua terus bisa membangun skill dan terus bisa dengan lapang dada menerima masukan dari siapapun. Ucapan terima kasih spesial untuk Memet dan teman-teman lain di Wannabe Dancer Bandung, yang telah memberikan kami kesempatan untuk melakukan wawancara dengan Alvin.